• SMP MUHAMMADIYAH 1 CILACAP
  • Unggul dalam Prestasi berdasarkan Iman dan Taqwa, Terampil Mandiri, dan Berbudaya Lingkungan

ANALISIS KETRAMPILAN KOMUNIKASI DISKUSI DALAM PLAN, DO, SEE PADA MATERI PEMAHAMAN LOKASI MELALUI PETA DI ERA DIGITAL 4.0 PADA PESERTA DIDIK KELAS VII B SMP MUHAMMADIYAH 1 CILACAP

oleh TIM Lesson study Mata Pelajaran IPS

SMP Muhammadiyah 1 Cilacap

 

 Etin Yuli Astuti Putri, S.Pd, ( etinyuli@gmail.com )

Rr. Melonia Yastika Isabela, S.Pd,  ( allriseyastika@gmail.com )

 

Pembimbing

Dr. Eny Winaryati, M.Pd; ( enywinaryati@unimus.ac.id )

 

Abstrak

Pada era Digital 4.0 perkembangan teknologi informasi sekarang ini membawa sebuah perubahan di dalam masyarakat dunia terutama di negara Indonesia. Perkembangan teknologi informasi telah mendorong lahirnya media sosial saat ini menjadikan pola-pola perilaku masyarakat umumnya tak terkecuali di kalangan pelajar. Pelajar masa kini telah mengalami pergeseran nilai baik budaya, etika dan norma yang ada saat ini. Media sosial merupakan salah satu media online, dengan para penggunaannya yang bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi maupun menciptakan komunikasi baru seperti aplikai wa. Sekarang ini, pembelajaran sudah dimulai dengan kelas kecil. Tahun ajaran 2021 Kegiatan pembelajaran mulai kembali dengan komunikasi  tatap muka terbatas. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan menganalisis komuniasi anak pada saat diskusi menggunakan  lesson study pada materi pemahaman lokasi melalui PETA dengan model pembelajaran PBL pada peserta didik kelas VII. Peneliti berharap penelitian ini mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui kegiatan Lesson Study yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu Plan, Do dan See dengan model PBL. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan dan observasi pada saat berlangsung diskusi kelompok  serta video proses pembelajaran. Subyek dalam penelitian adalah kelas VII sebanyak 12 siswa.

 

Keywords: ketrampilan komunikasi diskusi, Lesson Study, era digital 4.0

 

Pendahuluan

       Industri 4.0 atau revolusi industri tingkat keempat adalah sebuah istilah yang umum digunakan dalam  tingkatan perkembangan industri teknologi di dunia. Untuk revolusi tingkat keempat yang datang pada abad ke 21 ini, dikatakan hanya fokus dalam perkembangan teknologi-teknologi yang bersifat digital. Maka dari itu penulis ingin menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 pada abad 21 sama dengan Era Digital 4.0. Dikatakan sebagai era digital 4.0  dikarenakan teknologi yang dihasilkan dalam revolusi industri tingkat ke empat ini dapat membuat versi virtual dari instalasi, proses dan aplikasi yang terdapat pada dunia nyata. Versi virtual ini kemudian dapat diuji sehingga lebih efektif, bermanfaat, dan hemat biaya. Versi virtual ini dapat dibuat di dunia nyata dan ditautkan, melalui internet of things. Hal ini memungkinkan kita untuk berkomunikasi dan bekerja sama satu sama lain dan membuat pertukaran data secara real time dengan lebih mudah.

       Tahun 2019 wabah covid-19 melanda negara Indonesia. Wabah menular tersebut membuat pemerintah Indonesia menyatakan masa bekerja dari rumah (Work From Home) dan penyesuaian sistem kerja. Pemerintah Indonesia juga menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk memutus mata rantai pandemi COVID-19.

       Penyesuaian sistem kerja bukan berarti segala kegitan masyarakat dan pelayanan publik ditiadakan. Kegiatan masyarakat tetap dapat dilakukan melalui daring (online) atau jika terdapat pelayanan manual harus mengimplementasikan mengukur suhu pengguna layanan, menyediakan tempat cuci tangan/handsanitizer dan menjaga jarak.

       Tidak hanya pada kegitan masyarakat, kegiatan Pendidikan juga mengikuti anjuran pemerintah  tersebut dengan mengadakan kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ) atau yang lebih dikenal dengan pembelajaran Dalam Jaringan ( Daring). Selain bertujuan untuk menghentikan wabah covid 19, kegiatan pembelajaran daring juga sebagai upaya menerapkan perkembangan teknologi digital pada peserta didik.

       Pada akhir tahun 2021, perubahan penggunaan perkembangan teknologi digital telah mendorong lahirnya media sosial baru yang menjadikan perubahan pola-pola perilaku masyarakat umumnya tak terkecuali di kalangan peserta didik. Hal ini didukung dengan pernyataan (Mike & Mike, 2016) bahwa penggunaan internet dalam pembelajaran mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.

       Pola komunikasi  dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) menggunakan beberapa aplikasi belajar online yang membuat Guru dan peserta didik tidak dapat bertemu secara langsung. Pada pembelajaran daring Guru harus bisa menyampaikan pesan kepada berbagai siswa yang berbeda. Berbagai kombinasi media yang digunakan. Pesan yang disampaikan rumit, karena bukan hanya fakta-fakta saja melainkan juga sikap, gagasan, dan masalah lainnya. Belum lagi jika dihubungkan dengan perkembangan media telekomunikasi yang semakin canggih dan cepat menyebabkan guru merasa tertinggal dari siswanya terhadap data dan informasi baru (Abdul Aziz Wahab, 2009: 30). Hal ini menuntut guru untuk selalu melakukan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran. Keterampilan penggunaan media ajar, dan strategi pendekatan pembelajaran, menjadi keterampilan yang harus dikuasai oleh guru, (Winaryati, E. & Astuti, A.P, 2017)

       Terdapat beberapa aplikasi yang dapat di manfaatkan dalam pembelajaran daring, yaitu zoom, google classroom, whatsapp group, dan lain sebagainya. Kebiasaan baru dalam pembelajaran daring selain membuat peserta didik lebih kritis dalam pengunaaan teknologi, tetapi juga membuat kemampuan komunikasi peserta didik menurun. Pembelajaran daring memberikan dampak terhadap penurunan kemampuan sosial secara langsung dan peningkatan kemampuan sosial secara virtual (Lynch, 1999).

      Pada tahun 2021, semester 1  pembelajaran telah dilaksanakan dengan tatap muka terbatas, dengan jumlah 12 sampai 15 peserta didik. Guru dan siswa memulai lagi pembiasaan kegiatan belajar tatap muka. Kegiatan ini tentu berbeda dengan sebelumnya sebab komunikasi yang terjalin selama ini melalui media online harus kembali lagi dengan komunikasi tatap muka

       Tujuan penelitian ini, penulis ingin menganalisis ketrampilan komunikasi peserta didik pada saat diskusi dalam Plan, do, see pada materi pemahaman lokasi melalui peta di era digital 4.0.

Metode Penelitian

     Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menitikberatkan pada ketrampilan komunikasi peserta didik. Data diambil dari siswa kelas VII B SMP Muhammadiyah 1 cilacap Tahun ajaran 2021/2022. Pada penelitian ini data diperoleh dari pengamatan kegiatan diskusi siswa melalui kegitan plan ( perencanaan) , do (pelaksanaan), see (review atau refleksi) yang merupakan tahapan dari Lesson Study

       Lesson Study adalah praktik profesional yang terus berlanjut dimana guru berkolaborasi untuk merencanakan, mengamati, dan memperbaiki sebuah pelajaran, (Northwest Regional Educational Laboratory, 2004). 

     Kegiatan lesson study dilaksanakan pada hari kamis, 23 Desember 2021 dengan materi pemahaman lokasi melalui peta mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial oleh guru model, observer mapel IPS dan Observer tamu dari mapel B. Inggris serta perwakilan dari SMP Muhammadiyah 1 Cilacap.  

    Tahap plan (perencanaan) meliputi pengembangan Rencana Pembelajaran berupa chapter design dan lesson design yang dilengkapi dengan Lembar Kegiatan Peserta Didik, bahan ajar, media pembelajaran, skenario pembelajaran, alat evaluasi, dan penyusunan jadwal.

    Kegiatan pada tahap do (pelaksanaan) adalah open lesson di kelas untuk menerapkan hasil dari kegiatan plan. Salah satu anggota dari tim berperan sebagai guru model dan anggota lainnya berperan sebagai observer/pengamat. Fokus pengamatan diarahkan pada kegiatan belajar peserta didik, dengan berpedoman pada instrumen yang telah disepakati pada tahap perencanaan (plan), bukan pada penampilan guru model yang sedang mengajar. 

   Tahap see (review atau refleksi) dimaksudkan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran serta untuk menilai apakah tindakan yang dijalankan sudah sesuai rencana, di mana letak kekurangannya dan bagaimana memperbaikinya atau tindakan alternatif lain seperti apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kekurangan yang ada. Tahap ini diawali oleh guru model menyampaikan kesan dan pemikirannya mengenai pelaksanaan pembelajaran, selanjutnya diberikan kepada observer yang bertugas sebagai pengamat. Kritik dan saran disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyinggung perasaan guru model dengan tujuan untuk memperbaiki praktik pembelajaran ke depan

  1. Pembahasan

    Keterampilan menurut Muhibbin Syah (2003: 121) merupakan kegiatan yang berhubungan dengan urat syaraf dan otot-otot yang biasanya tampak dalam kegiatan jasmani seperti menulis, mengetik, olahraga, dan sebagainya. ketrampilan yang dimiliki peserta didik saat diskusi salah satunya adalah ketrampilan komunikasi.

       Kata komunikasi berasal dari bahasa latin “communis‟ yang berarti bersama (Inge Hutagalung, 2007: 65). Sementara itu  Sardiman (2011: 7-8) mengartikan bahwa istilah komunikasi yang berasal dari perkataan “communicare’ berarti berpartisipasi, memberitahukan, menjadi milik bersama.

       Pendapat lain dari Hafied Cangara (2011: 99-124), didalam keterampilan berkomunikasi siswa terdapat dua macam kode yaitu: 

  1. Kode Verbal : 

Kode verbal menggunakan bahasa, bahasa merupakan seperangkat kata yang telah disusun secara terstruktur sehingga menjadi himpunan kalimat yang mempunyai arti. 

Bahasa dalam menciptakan komunikasi yang efektif, mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk mengetahui sikap dan perilaku, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pewarisan nilai-nilai budaya, serta untuk menyusun sebuah ide yang sistematis. 

  1. Kode Nonverbal  : 

Kode nonverbal ialah bahasa isyarat atau bahasa diam. 

Keterampilan komunikasi diskusi pada penelitian ini, penulis mengambil  ketrampilan menggunakan bahasa dalam menghimpun kalimat (verbal). Proses diskusi mampu meningkatkan motif ketrampilan komunikasi peserta didik. Motif komunikasi peserta didik merupakan alasan-alasan yang mendorong peserta didik menyampaikan pesan kepada teman atau gurunya. Hal ini seperti yang diungkapkan Dani Vardiansyah ( 2008: 38-39) yaitu motif yang datang dari alam sadar memiliki sifat proaktif, relatif terencana, sedangkan motif yang datang dari alam bawah sadar sifatnya yaitu muncul seketika, reaktif, relatif tidak terencana.

Ketrampilan komunikasi diskusi peserta didik membawa pengaruh dalam tercapaikan kegiatan pembelajaran. Hal itu juga akan mendukung dalam pemahaman terhadap suatu materi pembelajaran (Mery Noviyanti, Jurnal Pendidikan Vol.12 No.2 September 2011)

Keterampilan berkomunikasi siswa yang tinggi mempunyai beberapa manfaat oleh Mery Noviyanti (Jurnal Pendidikan Vol.12 No.2 September 2011) yaitu: 

  1. Mempermudah siswa untuk berdiskusi Siswa dalam berdiskusi melakukan berbagai tindakan, seperti bertanya, menjawab, berkomentar, mendengar penjelasan, dan menyanggah (Martinis Yamin dan Bansu I. Ansari, 2009: 59). 
  2. Mempermudah untuk mencari informasi Seorang individu yang mempunyai motif untuk mengetahui sesuatu yang baru, maka mereka akan segera mencari informasi tersebut.
  3. Mempercepat mengevaluasi data Keterampilan berkomunikasi mendukung siswa untuk dapat mengevaluasi data yang ada. Data tersebut, misalnya berbagai pendapat yang muncul dalam diskusi kemudian siswa menyimpulkannya.
  4. Melancarkan membuat hasil kerja atau laporan Keterampilan berkomunikasi akan mendukung hasil belajar siswa.

Ketrampilan komunikasi dapat dilihat dalam kegitan lesson study dengan bagan siklus gambar 1. sebagai berikut :

Gambar 1. Bentuk siklus lesson study (Dikti, 2011)

 

Dengan siklus yang tampak pada gambar 1. dapat di simpulkan bahwa ketrampilan komunikasi peserta didik juga dapat di observasi melalui plan, do, see dengan siklus yang tampak pada gambar 2.




Gambar 2. Bentuk siklus lesson study menurut penulis

 

  • Perencanaan ( Plan)

 

Kegiatan perencanaan dilaksanakan melalui pendampingan membuat peta konsep untuk mengetahui sejauh mana materi peta dapat dijadikan materi dalam penerapan lesson study. Bersama pelaksana lesson study yang  terdiri dari: guru model dan guru observer mata pelajaran IPS bersama Dosen pendamping mendiskusikan untuk merencanakan bahwa kegiatan diskusi pada materi peta membuat peneliti menganalisis ketrampilan komunikasi peserta didik. Pada tahap awal ini guru model juga melakukan sharing dengan Dosen Unimus Dr. Eny winaryati, M.Pd sebagai pendamping, membahas mengenai kegiatan yang akan  dilakukan pada pembelajaran. Pembahasan diawali dengan maping ruang lingkup materi pemahaman lokasi wilayah dalam peta.

Pada tahapan perencanaan ini guru sudah memiliki pemahaman yang matang tentang kegitan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru merumuskan fokus pembelajaran dengan merancang rencana pembelajaran berbasis lesson study mulai dari merancang lesson design sampai merancang chapter design

Kegiatan lain yang dikerjakan pada tahapan plan, yaitu mempersiapkan silabus, membuat RPP, membuat lembar kerja peserta didik, membuat bahan ajar, membuat media pembelajaran berupa slide power point, dan membuat lembar observasi. Pada tahap plan juga dibahas mengenai teknis tahapan do untuk open lesson (buka kelas) dan memeriksa segala kesiapan untuk pelaksanaan open lesson dan mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Temuan-temuan kejadian di lapangan dikuatkan dengan wawancara dan observasi, dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3

Pada gambar 3. Guru berdiskusi untuk menentukan topik materi yang akan dipilih dalam pembelajaran. Kegiatannya diskusi dilaksanakan bersama sama oleh  guru model, dan guru observer Mapel IPS serta Dosen UNIMUS Dr. Eny winaryati, M.Pd sebagai pendamping pelaksanaan lesson study.

Hasil dari diskusi bersama adalah membuat lesson design dan chapter design lesson study materi peta untuk pemahaman lokasi wilayah.

Pada gambar 4. Tampak  produk lesson design materi peta dan pemahaman lokasi wilayah. Judul lesson desing adalah “ seperti apa peta yang baik dan benar “. 

Guru membuat alur perencaan materi yang dianggapkan peserta didik kurang paham sampai akhirnya diharapkan mampu memahami lokasi wilayah melalui peta.

 

Pada gambar 5. Tampak produk chapter design materi peta dan pemahaman lokasi wilayah.

Direncakan peserta didik akan diberi stimulus terlebih dahulu berkaitan materi kemudian peserta didik di minta mendiskusikan materi dengan diskusi.

 

Setelah diskusi terkait materi yang dibahas dengan menggunakan mind mapping, berikutnya adalah menyusun sintak pembalajaran. Sintak adalah langkah dalam pembelajaran. Hasil dari penyusunan materi dan Sintak dihasilkan chapter design dan lasson design serta beberapa hal lain yang harus disiapkan oleh guru. Adapun hal lain yang di persiapkan diantaranya silabus,  RPP, lembar kerja peserta didik, bahan ajar, media pembelajaran berupa slide power point, dan lembar observasi. 

Pada tahap ini juga  di rencanakan observasi dilakukan pada saat diskusi kelompok, yang diharapkan akan terlihat ketrampilan komunikasi siswa baik dengan teman sebaya, sesama kelompok, dengan kelompok lain serta komunikasi dengan guru.

Diharapkan komunikasi yang terjadi pada saat diskusi sangat efektif dan mendukung untuk kelancaran pencapaian tujuan pembelajaran, penulis mengacu pendapat dari Inge Hutagalung (2007: 68-69) ada beberapa tata cara berkomunikasi yang efektif yaitu: 

1) Melihat lawan bicara. Pembicara menatap bola mata ataupun kening lawan bicaranya, sehingga tidak terjadinya ketersinggungan, tidak menghadapkan tatapan ke arah kanan atau kiri, dan menatap dengan pandangan yang tidak marah atau sinis. 

2) Suaranya terdengar jelas. Percakapan harus memperhatikan keras atau tidak suara, tidak hanya terdengar samar-samar, sehingga akan menimbulkan ketidakjelasan inti dari percakapan. 

3) Ekspresi wajah yang menyenangkan. Ekspresi wajah merupakan gambaran dari hati seseorang, sehingga tidak menampilkan ekspresi yang tidak enak

4) Tata bahasa yang baik. Penggunaan bahasa sesuai dengan lawan bicaranya, misalnya saja saat berbicara dengan anak balita, maka gunakan bahasa sederhana. 

5) Pembicaraan mudah dimengerti, singkat dan jelas. Pemilihan tata bahasa yang baik dan kata-kata yang mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan kebingungan lawan bicara

Instrumen lembar observasi juga direncanakan oleh guru model dan observer dari Mata pelajaran IPS maupun Observer tamu. Berikut gambar lembar Observasi yang diharapkan dapat dilaksanakan saat pelaksanaan lesson study;

2.1 Pelaksanaan (Do)

 

 

Proses kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka dengan jumlah kelas kecil yaitu 12 peserta didik. . Guru model menyiapkan diri untuk mengajar, dan guru dari mata pelajaran IPS menjadi observer serta observer tamu dari guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Tugas observer adalah mencatat dan mendokumentasikan segala aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik. Observasi tertuju pada perilaku peserta didik, keunikan peserta didik, hal-hal menonjol yang dilakukan oleh peserta didik, selama pembelajaran. Gambaran perilaku, seperti sifat kekritisan anak, keberanian dalam menyampaikan pendapat serta yang terpenting adalah dokus pada ketrampilan komunikasi peserta didik pada saat diskusi yang dijadikan sebagai catatan hasil observasi dan sekaligus sebagai gambaran keberhasilan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran yang akan datang.

Kegiatan pembelajaran diawali dengan apersepsi yang dilakukaan dengan memberi pertanyaan sederhana mengenai denah dan pemahaman lokasi di daerah sekitar.  Guru memberi stimulus dengan sedikit membahas mengenaik unsur unsur PETA. Kegiatan inti peserta didik diminta membuat kelompok kemudian berdiskusi menganalisis unsur unsur peta dan menentukan letak lokasi pariwisata kabupaten cilacap melalui PETA tersebut. Pada saat diskusi dengan kelompok observer mengamati komunikasi pesereta didik baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal. .

Selama proses pembelajaran, dihasilkan beberapa aktivitas yang dilakukan oleh guru model maupun peserta didik. Berikut digambarkan bentuk aktivitas yang dilakukan, sebagai berikut:

Analisis 

Dari kegiatan pembelajaran yang telah , ditemukan berbagai bentuk aktivitas dan perilaku peserta didik yang dapat dijadikan refleksi pembelajaran. Temuan secara umum adalah sebagai berikut:

  1. Membaca tahfidz bersama
  2. Penuh perhatian ketika diberi nasihat
  3. Kerjasama peserta meningkat ketika menyelesaikan masalah 
  4. Menunjukkan peserta didik berfikir kritis, kreatif dan inovatif yang menunjukkan ide diluar kebiasaan anak.
  5. Peserta didik antusias ketika Hand phone boleh di gunakan untuk mencari informasi
  6. Peserta didik umumnya tidak ada kendala dalam ketrampilan komunikasi saat diskusi 

 

Secara khusus analisis keterampilan komunikasi dalam diskusi menggunakan  lesson study pada materi pemahaman lokasi melalui PETA dijelaskan sebagai berikut 

No.

Indikator Pengamatan

Hasil Analisis

1.

Melihat lawan bicara

Peserta didik cenderung untuk menghindar manatap lawan bicara saat berlangsungnya diskusi kelompok, namun komunikasi verbal melalui bahasa masih bisa berlangsung walaupun tanpa menatap lawan bicara.

Ada sebagian peserta didik berbicara dengan lawannya sambil memegang HP.

2.

Suaranya terdengar jelas

Dua dari empat kelompok diskusi dengan suara yang terdengar jelas dan tampak percaya diri untuk speak up saat berlangsunnya diskusi, namum dua kelompok lainnya berdiskusi dengan suara yang tidak terlalu keras, masih bisa didengar oleh teman satu kelompok namun tidak terdengar oleh guru model dan observer.

3.

Ekspresi wajah

Ekspresi wajah tampak antusias saat berlangsunya diskusi dari semua siswa tidak ada siswa yang menunjukan ekspresi jenuh. Semua siswa antusias dengan ekspresi bersemangat dan sanggup menerima tantangan.

4.

Tata bahasa yang baik

Tata bahasa yang digunakan peserta didik sebagian berbahas indonesia yang baik namun mereka lebih cenderung berbahasa jawa daerah dan dengan menggunakan bahasa daerah komunikasi lebih lancar 

5.

Pembicaraan mudah dimengerti

Peserta didik menggunkan bahasa yang banyak digunakan dalam komunikasi media online seperti tik tok dan bahasa youtuber yang cenderung kurang dapat dimengerti oleh guru namun bisa dipahami oleh beberapa peserta didik yang mengikuti alur pola bahasanya dan tidak dapat dimengerti oleh anak yang tidak mengikuti media online tersebut

Hasil analisis diatas dapat diketahui bahwa peserta didik telah menngunakan dan menerapkan ketrampilan komunikasi pada media online yang menurut mereka menarik. Hal tersebut telihat ketika mereka diminta memperhatikan slide yang menarim yang ditampilkan oleh guru. Kemudian juga ketika mereka diminta mencari informasi dari handphone, semangat menjadi bertambah. Dapat dikatakan peserta didik sudah dapat menerapkan pembelajaran era digital 4.0.

Namun komunikasi peserta didik dengan sesama teman mengalami beberapa kendala sebab mungkin selama 2 (dua) tahun selama pandemi peserta didik terbiasa berkomunikasi menggunakan media online. Pola bahasa para peserta didik juga semakin berbeda dan cenderung mengalami penurunan sebab banyak pola bahasa yang diambil adari media onlen yang tidak semua orang dapat memahaminya.



 

  • Refleksi (See) 

 

Kegiatan refleksi merupakan kegiatan umpan balik. Semua tim yang terlibat dalam pembelajaran, berkumpul bersama mencermati dan diskusi tentang segala kejadian yang di didokumentasikan, untuk dibahas bersama. Tahapannya guru model diminta menyampaiklan kesan-kesan selama mengajar.Tahapan see atau refleksi dilaksanakan langsung setelah pembelajaran berakhir. Kegiatan ini merupakan satu bagian dari proses kolaborasi yang merupakan ciri dari lesson study. 

Masukan lebih diarahkan pada peningkatan perubahan perilaku pada peserta didik. Diskusi membahas masukan, untuk perencanaan dan pelaksanaan pada pertemuan berikutnya. Meskipun yang diobservai adalah perilaku peserta didik, namun berdampak perubahan perilaku guru untuk merubah strategi pemb elajarannya kearah yang lebih baik. Guru  model dan observer bersama untuk mengevaluasi proses. Guru melakukan evaluasi terkait metode yang digunakan, media yang dipakai, juga bahan ajar yang disampaikan, dan tugas yang diberikan serta yang terpenting berfokus pada komunikasi peserta didik saat diskusi

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil adalah salah satunya dapat diketahui bahwa Peserta didik cenderung untuk menghindar manatap lawan bicara saat berlangsungnya diskusi kelompok. Kemudian sebagian peserta didik berbicara dengan lawannya sambil memegang HP.  Peserta didik menggunkan bahasa yang banyak digunakan dalam komunikasi media online seperti tik tok dan bahasa youtuber yang cenderung kurang dapat dimengerti oleh guru.

Akan tetapi peserta didik telah mengunakan dan menerapkan ketrampilan komunikasi pada media online yang menurut mereka menarik. Hal tersebut telihat ketika mereka diminta memperhatikan slide yang menarim yang ditampilkan oleh guru. Kemudian juga ketika mereka diminta mencari informasi dari handphone, semangat menjadi bertambah. Dapat dikatakan peserta didik sudah dapat menerapkan pembelajaran era digital 4.0.

walaupun komunikasi peserta didik dengan sesama teman mengalami beberapa kendala sebab mungkin selama 2 (dua) tahun selama pandemi peserta didik terbiasa berkomunikasi menggunakan media online. Namun ketrampilan komunikasi siswa sangat dalam diskusi dengan menerapkan pembelajaran era digital 4.0.

 

Rekomendasi

 

Rekomendasi yang dapat disampaikan dari kegiatan satu siklus lesson study ini adalah:

  1. Ditemukan bahawa anak telah siap menggunakan media online dalam pembelajaran tatap muka berbasis era digital 4.0.
  2. Setiap anak memeiliki bakan dan minat yang berbeda. Maka tugas guru adalah menggali potensi tersebut dan mengembangkannya terutama pada ketrampilan kominikasi di era digital.
  3. Kegitan lesson study dapat dilanjukan dan diteruskan oleh mapel lain di sekolah sekolah menyesuaikan karakteristik sekolah 



Lampiran 

  1. video pelaksanaan lesson study mata pelajaran IPS materi pemahaman lokasi melalui PETA https://youtu.be/6C-szJPC56I
  2. video hasil observasi peserta didik https://youtu.be/ntpv21ztqs4
  3. video pelaksanaan refleksi kegiatan lesson study  https://youtu.be/h1rtKoEZeec

 

Daftar Pustaka

 

Ruben, B.D and Stewart, L.P. (2013). Komunikasi dan Perilaku Manusia. Jakarta: Raja Grafindo Persada. [4] Iriantara, Y. (2014). 

Komunikasi Pembelajaran. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. [5] Mulyana, D. (2015). Ilmu Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya

Armstrong, A., (2011). Lessons study puts a collaborative lesn on student learning. Summer 2011.vol 14 no 4.

Farisi, M. Imam (2016) Developing The 21st- Century Social Studies Skill Through Technology Integration.Turkish Online Journal of Distance Education- TOJDE, 4:2, 16-30.

Handayani, R.D, et al. (2015). Penerapan Lesson Study Untuk Meningkatan. Jurnal 

Leung, K. And Chu, S. (2009). Using Wikis for Collaborative Learning: A Case Study of an Undergraduate Students’ Group Project in Hong Kong. Paper presented at the International Conference on Knowledge Management 2009, The University of Hong Kong. Available from: http://www.ickm2009.org/snews/upload/ickm_2009. [Accessed on 2 September 2019].

McInnis, R. (2019). Developing multimedia collaboratively: Practical approaches for large- scale online curriculum development. Journal of University Teaching and Learning Practice, 16(1).

Muzirah, A. M., & Nurhana, M. R. (2013). Persepsi Guru Sains Yang Mengamalkan Lesson Study Sebagai Program Pembangunan Profesional Guru Terhadap Keberkesanan Pengajaran Dan Pembelajaran. Proceeding of the Global Summit on Education.

Pantiwati, Y. (2015). Pemanfaatan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar dalam Lesson Study untuk Meningkatkan Metakognitif. JURNAL BIOEDUKATIKA, 3(1), 27. https://doi.org/10.26555/bioedukatika.v3i1.4144

Pratiwi, I. A. (2015). Pengembangan Model Kolaborasi Jigsaw role playing sebagai upaya peningkatan kemampuan bekerjasama Peserta didik Kelas V SD Pada Pelajaran IPS . Jurnal Konseling Gusjiang.1(2). https://doi.org/10.24176/jkg.v1i2.411 

Ratna Hidayah, dkk. (2017) Critical Thinking Skill: Konsep dan Indikator Penilaian. Jurnal Taman Cendekia, 1:2, 127-133.

Tee, D. D., & Ahmed, P. K. (2014). 360 degree feedback: An integrative framework for 

Tvenge, N., & Martinsen, K. (2018). Integration of digital learning in industry 4.0. In Procedia Manufacturing (Vol. 23, pp. 261–266). Elsevier B.V. https://doi.org/10.1016/j.promfg.2018.04.027

Winaryati, E & Astuti, P.A. (2017). “4c’s Characters” On The Implementation Of Learning “ Basic Concept Of Assessment”Through Lesson Study. 978-602-98097-8-7 The 8th ICLS 2017. https://id.scribd.com/document/417696298/prosiding-icls-8-pdf.

Winaryati,  E.  (2017). MODEL PEMBELAJARAN “WISATA LOKAL” (Implementasi Pembelajaran Abad 21). Unimus Press. ISBN 978-602-5614-22-4

Winaryati, E. (2019). Model pembelajaran “Wisata Lokal” (implementasi pembelajaran abad 21), Unimus press, Semarang.

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
KEUNGGULAN “MEMBIASAKAN” BERBAHASA INGGRIS DI DALAM KELAS

Zahrotul ‘Izzah SMP MUHAMMADIYAH 1 CILACAP zahrotulizzah93@gmail.com Abstrak           Tulisan ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi para pendidi

10/12/2022 07:35 WIB - Administrator
Penggunaan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan kemampuan menulis peserta didik kelas VIII menggunakan Media Canva dalam pembelajaran Bahasa Inggris pada materi Greeting Card.

Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)  Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak) Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam P

10/12/2022 06:59 WIB - Administrator
PJJ Won’t Kill You

16 Maret 2020 lalu, WFH atau Work from Home dimulai sebagai upaya pencegahan merebaknya virus korona yang sudah berdampingan dengan kita semua hampir 1 tahun lamanya. Seluruh masyaraka

05/12/2022 16:20 WIB - Administrator